Ini Tentang (Diet) Tas Plastik…
Jumat, 14 Februari 2020 | 08:06 WIB
Beberapa hari lalu aku berbelanja ke pasar tradisional. Pasar yang sering mengingatkanku saat kecil dulu ketika sering diajak ibu berbelanja di sana. Pasar dulu dan kini tetaplah pasar. Tempat dengan berbagai dinamika keramaian dan juga interaksinya. Ada hal yang menarik kemarin. Ketika aku hendak memilih lemon, bawang, dan kawan-kawannya ada seorang ibu yang berbebanja dengan memberikan dua tas kecil berbahan tile. Kala itu ia hendak membeli mentimun dan bawang merah. Penjual yang sibuk tampaknya tidak ‘ngeh’ dengan maksud ibu tersebut memberikan tas tilenya. Ia memasukkan mentimun dan bawang merah ke dalam tas plastik bening. Nah, perkataan ibu pembeli yang kemudian membuatku takjub. “Bu, saya sengaja bawa tas sendiri, lagi diet tas plastik.”
Masih di pasar dan setelah aku selesai dengan urusan perbumbuan, aku pun menuju ke tempat penjual sarapan. Karena lapar, aku memutuskan untuk menyantap langsung nasi kebuli di situ. Ternyata kedai nasi kebuli ini cukup laris. Ada banyak pembeli lainnya yang juga menikmati langsung di sini sama sepertiku. Nah, peristiwa menarik terjadi lagi. Ketika ada yang memesan nasi kebuli untuk dibawa pulang. Sang penjual kemudian mengambil kemasan plastik untuk membungkus. Dan ibu pembeli ternyata menolak jika makanannya dibungkus menggunakan kemasan plastik tersebut. “Pak, pakai kertas nasi saja bungkusnya ya! Saya ngeri kalau pakai plastik, susah terurainya! Musti nungggu 100 tahun.”
Menarik sekali bagaimana para pembeli di pasar sudah sangat paham terhadap pentingnya tidak menggunakan kemasan plastik. Bahkan mereka sampai menolak menggunakan kemasan plastik disertai dengan menyebutkan alasannya. Sungguh keren bukan?
Bagaimana denganmu?
